KEARIFAN LOKAL PAPUA DAN INTEGRASINYA DENGAN NILAI-NILAI ISLAM

Authors

  • Muhammad Syaiful Syaiful SMP Nurul Huda Jayapura Author

Keywords:

Kearifan Lokal, Papua, Islam, integrasi budaya, Moderasi Beragama

Abstract

Kearifan lokal Papua dapat dipahami sebagai seperangkat nilai, aturan sosial, praktik budaya, serta pandangan hidup yang tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat adat Papua. Nilai-nilai tersebut meliputi semangat kebersamaan, pengambilan keputusan secara mufakat, kepedulian terhadap kelestarian alam, serta tatanan sosial yang berlandaskan komunitas. Masuk dan berkembangnya Islam di kawasan pesisir Papua sejak abad ke-15 melahirkan proses akulturasi budaya yang berlangsung secara harmonis melalui aktivitas perdagangan, hubungan perkawinan, dan interaksi dialogis antarbudaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam berbagai bentuk integrasi antara kearifan lokal Papua dengan ajaran Islam yang berkembang dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat, baik pada ranah sosial, budaya, maupun pendidikan. Integrasi tersebut dipahami sebagai proses dialog dan perjumpaan nilai yang berlangsung secara dinamis, di mana prinsip-prinsip Islam berinteraksi secara harmonis dengan sistem nilai, norma adat, dan praktik budaya lokal Papua tanpa meniadakan identitas masing-masing. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan, telaah historis, dan perspektif antropologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat keselarasan yang kuat dan saling menguatkan antara nilai-nilai fundamental dalam ajaran Islam, seperti prinsip musyawarah (syūrā), semangat persaudaraan (ukhuwwah), penegakan keadilan, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (ḥifẓ al-bī’ah), dengan berbagai bentuk kearifan lokal yang hidup dan berkembang dalam masyarakat adat Papua. Kesesuaian tersebut tercermin, misalnya, dalam filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang menekankan pentingnya kebersamaan, keseimbangan, dan saling menopang dalam kehidupan sosial, sejalan dengan ajaran Islam tentang persatuan dan solidaritas umat. Demikian pula konsep “Igya Ser Hanjop” yang mengajarkan kehati-hatian dan tanggung jawab dalam mengelola alam memiliki relevansi yang kuat dengan prinsip Islam mengenai amanah dan kewajiban menjaga lingkungan. Selain itu, sistem kolektivitas masyarakat adat Papua yang mengedepankan kepentingan bersama, gotong royong, dan pengambilan keputusan secara mufakat menunjukkan kesesuaian yang nyata dengan nilai musyawarah dan keadilan dalam Islam. Integrasi nilai-nilai tersebut tidak hanya memperkuat praktik keberagamaan yang moderat dan inklusif, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal serta menciptakan stabilitas sosial yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Papua.

Downloads

Published

2025-06-01